Sekolah Menejemen Bumdesa (SMB) 17 Klaten.
Direktur Dwi Suci Lestariana, S.P, M.P.
Alamat Jl. Pandanaran, Jiwo Kulon No 20. Wedi, Klaten, Jawa Tengah.
Sub Tema :
Membangun BUM Desa yang Mandiri meliputi : Kepemilikan Masyarakat atas BUM Desa, Koperasi Produksi Desa, Membangun Gerakan BUM Desa. Kinerja BUM Desa, Faktor Pendukung dan Penghambat BUM Desa.
Para Trainer Handal:
Yanni Setiadiningrat(Carik Ponggok).
Eko Wiratno, S.Sos, M.M, M.Si(Penulis Buku BUM Desa).
Bersama SMB 17 Klaten.
Telp/ WA/ Telegram/ SMS :
081567 898354
081390 877580
Senin, 31 Desember 2018
Jumat, 28 Desember 2018
Sekolah Manajemen Bumdesa 17(SMB 17) Klaten!!!
Apakah Direktur Bumdes anda sudah Bermental Pengusaha?
Mental Pengusaha selalu berpikir positif, bahwa masa depan akan lebih baik dari hari ini.
Mental Pengusaha percaya usaha sendiri. Mereka tidak menunggu datangnya bantuan, tetapi terus bergerak mencari peluang. Memulai dengan apa yang ada. Mengolah apa yang dipunyai, tidak berangan-angan mengolah yg dia tidak punya.
Mental Pengusaha Berani Ambil Risiko, dengan perhitungan yang cermat.
Mereka suka memberdayakan orang lain. Kalau bisa dilakukan orang lain, kenapa harus saya lakukan sendiri ?
Apakah Bumdes anda sudah dipegang Ketua/Direktur dengan mental Pengusaha ?
Kalau belum, segera sadar diri, insyaf dan lakukan #RevolusiMindset
Tidak ada kata terlambat. Semua bisa dilatih dan dikembangkan.
#FilosofiBumdes
#TerusBelajar #TerusBergerak
Mental Pengusaha selalu berpikir positif, bahwa masa depan akan lebih baik dari hari ini.
Mental Pengusaha percaya usaha sendiri. Mereka tidak menunggu datangnya bantuan, tetapi terus bergerak mencari peluang. Memulai dengan apa yang ada. Mengolah apa yang dipunyai, tidak berangan-angan mengolah yg dia tidak punya.
Mental Pengusaha Berani Ambil Risiko, dengan perhitungan yang cermat.
Mereka suka memberdayakan orang lain. Kalau bisa dilakukan orang lain, kenapa harus saya lakukan sendiri ?
Apakah Bumdes anda sudah dipegang Ketua/Direktur dengan mental Pengusaha ?
Kalau belum, segera sadar diri, insyaf dan lakukan #RevolusiMindset
Tidak ada kata terlambat. Semua bisa dilatih dan dikembangkan.
#FilosofiBumdes
#TerusBelajar #TerusBergerak
Minggu, 23 Desember 2018
Ketua BPD Desa Trotok Terpilih Silaturahim dengan Pengurus Bumdesa Trotok.
Bisnis apa yang paling mudah ? Modal diberikan, kantor disediakan, orang-orang didalamnya memiliki komitmen kuat, dan didukung pemerintah dalam pengembangan usahanya.
Bisnis apa yang berpotensi menjadi raksasa baru ekonomi Indonesia? Mereka cepat atau lambat akan memiliki jaringan di 74.948 desa. Mereka memiliki akses langsung terhadap sumber daya, dan posisinya terjaga dan terjamin oleh undang-undang?
Bisnis apa yang akan mengubah peta bisnis Indonesia di masa depan ? Bisnis saat ini telah bergeser ke arah ekonomi berbagi (shared economy). Bukan saya pengusaha dan anda pekerja. Bukan saya pengusaha anda konsumen. Tetapi Pengusaha-Pekerja-Konsumen membentuk kerjasama dan saling berbagi. Lihatlah perusahaan transportasi terbesar saat ini tidak memiliki armada motor atau mobil satupun. Perusahaan retail terbesar di dunia tidak memiliki stok persediaan. Mengapa hal itu mungkin terjadi ? Banyak orang berpikir revolusi industri 4.0 yang mendorong itu semua atau hal itu terjadi karena teknologi digital yg sudah begitu canggih. Itu mungkin betul, tetapi tanpa revolusi mindset, perubahan cara pandang yang radikal, yaitu pada dasarnya Pengusaha-Pekerja-Konsumen memiliki tujuan yang sama dan bisa bekerjasama.
Kita menunggu tahun depan bangkitnya raksasa tidur, yaitu ketika 41.000 Bumdes yang sudah terbentuk sadar akan potensi dan peluang di depan mata.
Karena saat ini yang terpenting bukan siapa yang memiliki potensi, tetapi siapa yang bisa memanfaatkan peluang.
Masa depan milik orang yang berani.
Sabtu, 22 Desember 2018
KRITIS, BANYAK PENGANGGURAN BERLABEL S2 !!!
KRITIS, BANYAK PENGANGGURAN BERLABEL S2.
Oleh : Eko Wiratno.
Contoh 2 (dua) tahun terakhir Universitas Negeri Yogyakarta menerima 1000_an mahasiswa S2,
dan persaingan untuk memperebutkan kursi S2 di UNY lumayan tinggi. Perbandingan kuota dengan pendaftar berada di angka 1:3 sampai 1:8.
Universitas Gajah Mada saja meluluskan 1000_an mahasiswa S2 setiap tahun.
Konon setiap tahunnya ada 2000-an mahasiswa S2 yang diterima oleh UGM.
Belum lagi kalau kita akumulasikan dengan sekian banyak perguruan tinggi negeri swasta dan negeri lainnya di seluruh Indonesia yang juga membuka program S2.
Kalau jumlah yang semakin membesar setiap tahun ini tidak disiasati dengan baik oleh pemerintah dan pelamar S2 itu sendiri, maka level pengangguran terdidik Indonesia akan naik kelas dari pengangguran S1 menjadi pengangguran S2.
(Wow......hahaha).
BPS menyebutkan pada tahun 2017 ada sebanyak 630.000 sarjana yang masih menganggur.
Jika para lulusan S2 ini hanya berorientasi menjadi dosen, maka persaingan dosen pun sudah menggila saat ini. 1 kursi lowongan dosen sudah diperebutkan 20 sampai 100 orang, artinya, 19 sampai 99 orang pemilik gelar S2 akan gigit jari setiap kali ada penerimaan dosen.
Sementara kemampuan perguruan tinggi swasta untuk melakukan rekruitmen dosen juga tak terlalu besar-besar amat!!!
Tiap jurusan paling hanya dibuka paling banyak 5 lowongan dosen, itupun dengan standar gaji mengikuti kemampuan keuangan perguruan tinggi swasta tersebut.
Melihat fenomena seperti itu, penyelenggara S2 perlu memilah-milah mana mahasiswa yang ingin terjun dalam dunia akademik dan penelitian serta mana mahasiswa yang ingin terjun dalam dunia praktisi dan bisnis.
Saya melihat bahkan untuk level S2 pun belum ada kurikulum spesifik untuk masing-masing background profesi mahasiswanya.
Mahasiswa hanya diberondong dengan pakem S2 yang sangat teoritik yang memang menjadi arus utama pola S2 di Indonesia. S2 di Indonesia masih cenderung menyiapkan orang menjadi akademisi dan peneliti bukan sebagai praktisi.
Akhirnya degree S2 lebih banyak dijadikan sebagai eskalator "gengsi" sosial dan dalam hal tertentu menjadi jurus ampuh untuk mendapatkan posisi-posisi yang lebih tinggi di instansi tempat bekerja.
Namun, jika dalam sebuah kantor mayoritas pegawainya juga sudah S2, maka degree S2 pun sudah sama gengsinya seperti S1 dan gelar S1 downgrade seperti kuantitas SMA.
Jika S2 diobral seperti kacang goreng dan standar masuk serta standar kelulusannya dipermudah bahkan lebih mudah daripada masuk S1 maka bencana pengangguran bertitel master sebentar lagi akan menghantam Indonesia.
Oleh : Eko Wiratno.
Contoh 2 (dua) tahun terakhir Universitas Negeri Yogyakarta menerima 1000_an mahasiswa S2,
dan persaingan untuk memperebutkan kursi S2 di UNY lumayan tinggi. Perbandingan kuota dengan pendaftar berada di angka 1:3 sampai 1:8.
Universitas Gajah Mada saja meluluskan 1000_an mahasiswa S2 setiap tahun.
Konon setiap tahunnya ada 2000-an mahasiswa S2 yang diterima oleh UGM.
Belum lagi kalau kita akumulasikan dengan sekian banyak perguruan tinggi negeri swasta dan negeri lainnya di seluruh Indonesia yang juga membuka program S2.
Kalau jumlah yang semakin membesar setiap tahun ini tidak disiasati dengan baik oleh pemerintah dan pelamar S2 itu sendiri, maka level pengangguran terdidik Indonesia akan naik kelas dari pengangguran S1 menjadi pengangguran S2.
(Wow......hahaha).
BPS menyebutkan pada tahun 2017 ada sebanyak 630.000 sarjana yang masih menganggur.
Jika para lulusan S2 ini hanya berorientasi menjadi dosen, maka persaingan dosen pun sudah menggila saat ini. 1 kursi lowongan dosen sudah diperebutkan 20 sampai 100 orang, artinya, 19 sampai 99 orang pemilik gelar S2 akan gigit jari setiap kali ada penerimaan dosen.
Sementara kemampuan perguruan tinggi swasta untuk melakukan rekruitmen dosen juga tak terlalu besar-besar amat!!!
Tiap jurusan paling hanya dibuka paling banyak 5 lowongan dosen, itupun dengan standar gaji mengikuti kemampuan keuangan perguruan tinggi swasta tersebut.
Melihat fenomena seperti itu, penyelenggara S2 perlu memilah-milah mana mahasiswa yang ingin terjun dalam dunia akademik dan penelitian serta mana mahasiswa yang ingin terjun dalam dunia praktisi dan bisnis.
Saya melihat bahkan untuk level S2 pun belum ada kurikulum spesifik untuk masing-masing background profesi mahasiswanya.
Mahasiswa hanya diberondong dengan pakem S2 yang sangat teoritik yang memang menjadi arus utama pola S2 di Indonesia. S2 di Indonesia masih cenderung menyiapkan orang menjadi akademisi dan peneliti bukan sebagai praktisi.
Akhirnya degree S2 lebih banyak dijadikan sebagai eskalator "gengsi" sosial dan dalam hal tertentu menjadi jurus ampuh untuk mendapatkan posisi-posisi yang lebih tinggi di instansi tempat bekerja.
Namun, jika dalam sebuah kantor mayoritas pegawainya juga sudah S2, maka degree S2 pun sudah sama gengsinya seperti S1 dan gelar S1 downgrade seperti kuantitas SMA.
Jika S2 diobral seperti kacang goreng dan standar masuk serta standar kelulusannya dipermudah bahkan lebih mudah daripada masuk S1 maka bencana pengangguran bertitel master sebentar lagi akan menghantam Indonesia.
Langganan:
Postingan (Atom)



