Sabtu, 22 Desember 2018

KRITIS, BANYAK PENGANGGURAN BERLABEL S2 !!!

KRITIS, BANYAK PENGANGGURAN BERLABEL S2.

Oleh : Eko Wiratno.

Contoh 2 (dua) tahun terakhir Universitas Negeri Yogyakarta menerima 1000_an mahasiswa S2,
dan persaingan untuk memperebutkan kursi S2 di UNY lumayan tinggi. Perbandingan kuota dengan pendaftar berada di angka 1:3 sampai 1:8.

Universitas Gajah Mada saja meluluskan 1000_an mahasiswa S2 setiap tahun.

Konon setiap tahunnya ada 2000-an mahasiswa S2 yang diterima oleh UGM.

Belum lagi kalau kita akumulasikan dengan sekian banyak perguruan tinggi negeri swasta dan negeri lainnya di seluruh Indonesia yang juga membuka program S2.

Kalau jumlah yang semakin membesar setiap tahun ini tidak disiasati dengan baik oleh pemerintah dan pelamar S2 itu sendiri, maka level pengangguran terdidik Indonesia akan naik kelas dari pengangguran S1 menjadi pengangguran S2.
(Wow......hahaha).

BPS menyebutkan pada tahun 2017 ada sebanyak 630.000 sarjana yang masih menganggur. 

Jika para lulusan S2 ini hanya berorientasi menjadi dosen, maka persaingan dosen pun sudah menggila saat ini. 1 kursi lowongan dosen sudah diperebutkan 20 sampai 100 orang, artinya, 19 sampai 99 orang pemilik gelar S2 akan gigit jari setiap kali ada penerimaan dosen.

Sementara kemampuan perguruan tinggi swasta untuk melakukan rekruitmen dosen juga tak terlalu besar-besar amat!!!
Tiap jurusan paling hanya dibuka paling  banyak 5 lowongan dosen, itupun dengan standar gaji mengikuti kemampuan keuangan perguruan tinggi swasta tersebut.

Melihat fenomena seperti itu, penyelenggara S2 perlu memilah-milah mana mahasiswa yang ingin terjun dalam dunia akademik dan penelitian serta mana mahasiswa yang ingin terjun dalam dunia praktisi dan bisnis.
Saya melihat bahkan untuk level S2 pun belum ada kurikulum spesifik untuk masing-masing background profesi mahasiswanya.

Mahasiswa hanya diberondong dengan pakem S2 yang sangat teoritik yang memang menjadi arus utama pola S2 di Indonesia. S2 di Indonesia masih cenderung menyiapkan orang menjadi akademisi dan peneliti bukan sebagai praktisi.

Akhirnya degree S2 lebih banyak dijadikan sebagai eskalator "gengsi" sosial dan dalam hal tertentu menjadi jurus ampuh untuk mendapatkan posisi-posisi yang lebih tinggi di instansi tempat bekerja.

Namun, jika dalam sebuah kantor mayoritas pegawainya juga sudah S2, maka degree S2 pun sudah sama gengsinya seperti S1 dan gelar S1 downgrade seperti kuantitas SMA.

Jika S2 diobral seperti kacang goreng dan standar masuk serta standar kelulusannya dipermudah bahkan lebih mudah daripada masuk S1 maka bencana pengangguran bertitel master sebentar lagi akan menghantam Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar